Pernahkah kamu merasa sudah belajar sesuatu berulang kali, tetapi tetap saja sulit mengingatnya? Mungkin yang kamu butuhkan adalah pendekatan behaviorisme dalam belajar. Meskipun terdengar agak rumit, sebenarnya teori ini cukup sederhana dan mudah dipahami, terutama jika kamu tahu bahwa inti dari behaviorisme adalah tentang pengulangan, hadiah, dan respon. Yuk, kita bahas dengan cara yang lebih santai dan menyenangkan!
Apa Itu Behaviorisme?
Sebelum kita masuk lebih jauh, mari kita kupas dulu apa sih sebenarnya behaviorisme itu. Jadi, behaviorisme adalah salah satu teori pembelajaran yang berfokus pada perilaku yang dapat diamati. Dalam kata lain, behaviorisme beranggapan bahwa semua tindakan kita (atau perilaku) dipengaruhi oleh stimulus dan respon. Nah, kita seringnya mendengar istilah ini terkait dengan penghargaan atau hukuman dalam proses pembelajaran. Jadi, jika kamu memberikan reward atau hadiah setiap kali seseorang melakukan sesuatu dengan benar, mereka akan lebih cenderung mengulanginya, begitu juga sebaliknya jika ada hukuman.
Dalam konteks ini, jika kita belajar teori behaviorisme, kita bisa membayangkan seorang guru yang memberi pujian atau hadiah setiap kali siswa mengerjakan tugas dengan benar. Dengan demikian, si siswa akan termotivasi untuk terus berbuat baik demi mendapatkan hadiah. Nah, itu adalah intisari dari pembelajaran behavioristik: perilaku yang positif akan dipertegas, sementara yang negatif akan diminimalisir.
3 Tokoh Besar Behaviorisme
Ngomong-ngomong soal teori ini, siapa yang pertama kali memperkenalkan behaviorisme? Ternyata, ada beberapa tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan teori ini. Di antaranya adalah John B. Watson, B.F. Skinner, dan Ivan Pavlov. Ketiganya punya cara pandang yang berbeda, tapi semua sepakat bahwa perilaku manusia bisa dipelajari dan dipengaruhi melalui stimulus dan respon.
-
John B. Watson adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep behaviorisme pada awal abad ke-20. Ia mengatakan bahwa psikologi harus fokus pada perilaku yang bisa diamati, bukan perasaan atau pikiran yang tidak bisa diukur. Intinya, Watson percaya kalau kita ingin memahami manusia, kita harus melihat bagaimana mereka berperilaku dalam konteks lingkungan mereka.
-
B.F. Skinner selanjutnya membawa behaviorisme ke level yang lebih praktis. Dia menciptakan konsep yang dikenal dengan nama penguatan (reinforcement), yang berarti memberikan hadiah untuk memperkuat suatu perilaku, atau hukuman untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Skinner sering menggunakan eksperimen dengan box skinner, yang menunjukkan bagaimana tikus bisa belajar menekan tombol untuk mendapatkan hadiah berupa makanan.
-
Sementara itu, Ivan Pavlov terkenal dengan eksperimen pada anjing, yang menampilkan prinsip dasar behaviorisme lewat pembiasaan. Jadi, Pavlov mengajarkan anjing untuk mengeluarkan air liur setiap kali mendengar suara bel. Dengan kata lain, anjing tersebut belajar untuk menghubungkan suara bel dengan makanannya, meskipun tidak ada makanan yang diberikan.
Bagaimana Behaviorisme Mempengaruhi Pembelajaran?
Jadi, apa hubungan behaviorisme dengan proses belajar? Pada dasarnya, teori ini menekankan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang bisa diamati. Ketika kita belajar, kita akan menunjukkan perubahan dalam cara kita bertindak sebagai akibat dari pengaruh lingkungan dan pengalaman yang kita terima.
Misalnya, bayangkan seorang anak yang belajar membaca. Saat pertama kali belajar, mereka mungkin tidak terlalu paham dengan kata-kata dan huruf. Namun, dengan pengulangan dan penguatan positif seperti pujian dari guru atau orang tua setiap kali mereka bisa membaca dengan benar, anak tersebut akan semakin percaya diri dan terus berusaha. Sebaliknya, jika ada hukuman atau kritikan setiap kali mereka salah membaca, mereka mungkin akan merasa takut atau ragu-ragu.
Dengan prinsip ini, behaviorisme menganggap bahwa pembelajaran adalah hasil dari latihan yang terus-menerus, di mana siswa belajar melalui ulang-ulang dan mendapatkan respon yang sesuai. Hal ini sangat berguna, terutama dalam pembelajaran keterampilan seperti matematika, olahraga, atau bahkan seni, di mana pengulangan sangat penting untuk meningkatkan keahlian dan ketepatan.
4 Aplikasi Behaviorisme dalam Kehidupan Sehari-hari
Jadi, teori behaviorisme ini bukan hanya berlaku di ruang kelas saja, loh! Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering menghadapi penerapan teori ini. Coba deh, perhatikan contoh-contoh berikut:
-
Pendidikan: Seorang guru menggunakan pujian atau reward setiap kali siswa menunjukkan perilaku yang baik atau mengerjakan tugas dengan benar. Ini bisa mendorong siswa untuk terus berusaha lebih keras.
-
Pekerjaan: Di dunia kerja, banyak perusahaan yang memberikan insentif atau bonus bagi karyawan yang mencapai target atau kinerja terbaik. Ini adalah bentuk penguatan positif yang mendorong karyawan untuk lebih produktif.
-
Keluarga: Orang tua sering memberi hadiah atau pujian ketika anak-anaknya membantu pekerjaan rumah atau berperilaku baik. Ini membentuk kebiasaan positif yang mereka bawa sampai dewasa.
-
Pelatihan Hewan: Kamu mungkin pernah melihat pelatih anjing yang menggunakan reward untuk mengajarkan anjing mereka duduk, datang saat dipanggil, atau melakukan trik lainnya. Ini adalah contoh nyata pengaruh pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kritik terhadap Behaviorisme
Meski terdengar sangat masuk akal, teori behaviorisme ini juga nggak lepas dari kritik. Banyak orang merasa bahwa behaviorisme terlalu sederhana dan tidak memadai untuk menjelaskan kompleksitas proses belajar manusia. Salah satunya adalah kritik yang mengatakan bahwa teori ini terlalu fokus pada perilaku yang terlihat, tanpa memperhitungkan faktor internal seperti perasaan, pikiran, dan motivasi seseorang. Padahal, kita tahu bahwa motivasi internal itu sangat berpengaruh dalam belajar, kan?
Selain itu, pembelajaran yang terlalu bergantung pada penghargaan dan hukuman juga bisa membuat siswa hanya fokus pada hasil, bukan pada proses belajar itu sendiri. Jadi, kadang siswa mungkin hanya berusaha untuk mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman, bukan untuk memahami atau menguasai materi secara mendalam.
Jadi, meskipun teori behaviorisme ini terkesan sangat fokus pada pengulangan, hadiah, dan hukuman, tidak bisa dipungkiri bahwa ia memberikan kontribusi yang besar dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Teori ini mengajarkan kita bahwa perubahan perilaku bisa dicapai melalui pengulangan dan penguatan, serta memberikan cara yang efektif untuk mengembangkan keterampilan tertentu. Meskipun ada beberapa kritik yang perlu dipertimbangkan, behaviorisme tetap menjadi salah satu pendekatan penting dalam memahami bagaimana kita belajar dan beradaptasi dengan dunia sekitar kita.
Sekarang, kamu jadi lebih paham kan kenapa kita cenderung lebih mudah mengingat sesuatu yang sering diulang dan diberi hadiah? Bisa jadi itu adalah efek dari behaviorisme yang sudah tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari!